Selasa, 26 Februari 2008

JERMAN MEMILIH NAZI

Adolf Hitler dan Nazi melakukan suatu kampanye modern pada tahun 1930 tidak seperti yang pernah dilihat di Jerman sebelumnya. Hitler melakukan perjalanan ke pelosok negeri mengirimkan lusinan pembicara utama, menghadiri pertemuan-pertemuan, berjabat tangan, memberi tanda tangan, pose untuk foto, dan bahkan mencium bayi.

Joseph Goebbels secara brilian mengatur ribuan pertemuan, pawai-pawai yang meriah, menempelkan poster dimana-mana dan mencetak jutaan kopi edisi khusus surat kabar Nazi.

Jerman berada dalam genggaman Depresi Besar dengan populasi yang menderita kemiskinan, kesengsaraan, dan ketidakpastian, diantara meningkatnya ketidakstabilan politik.

Bagi Hitler, master pembuat pidato, penantian panjang untuk melepaskan bakatnya pada rakyat Jerman telah tiba. Dia akan menemukan dalam orang-orang yang tertekan itu, pendengar yang sangat ingin mendengar. Dalam pidatonya, Hitler menawarkan pada rakyat Jerman apa yang sangat mereka inginkan, harapan. Dia memberi mereka janji samar-samar dan menghindari detailnya. Dia menggunakan kata-kata sederhana, diulang berkali-kali.

Penampilan kampanyenya dijadwalkan dengan teliti. Hadirin selalu menunggu, dengan ketegangan memuncak, dipecahkan oleh prosesi yang khidmat dari seragam coklat dengan bendera keemasan, diiringi terompet musik militer, dan akhirnya kemunculan Hitler di tengah-tengah teriakan "Heil!" pengaruh dari hall tertutup dengan tata lampu gaya teaterikal dan dekorasi swastika memenuhi ruangan dan sangat mencolok.

Hitler memulai tiap pidatonya dengan pelan, nada rendah, secara perlahan meningkatkan suara dan tekanannya kemudian mencapai klimak dengan kemarahan yang meledak-ledak. Dia menggabungkannya dengan sikap tangan yang terlatih untuk mencapai efek yang maksimum. Dia dengan mahirnya memainkan emosi pendengarnya membawa mereka ke tingkat kesenangan yang semakin tinggi sampai mereka terbelalak, menjerit, massa yang riuh-rendah tunduk pada kehendaknya dan memandang dia dengan pemujaan berlebihan.

Hitler menawarkan sesuatu kepada setiap orang; pekerjaan bagi pengangguran, kemakmuran bagi pebisnis yang gagal, keuntungan untuk industri, ekspansi untuk angkatan bersenjata, keharmonisan sosial dan akhir dari perbedaan kelas bagi pelajar muda yang idealis, dan memulihkan kejayaan Jerman pada yang putus asa. Dia berjanji membawa suatu orde diantara kekacauan, perasaaan menyatu bagi semua dan kesempatan untuk memiliki. Dia akan membuat Jerman kuat lagi, mengakhiri pampasan perang pada sekutu, merobek-robek perjanjian Versailles, menyingkirkan korupsi, menjatuhkan Marxisme, dan melakukan kekerasan pada Yahudi.

Dia menarik semua kelas di Jerman. Nama partai Nazi sendiri adalah mencakup semua – Partai Buruh Jerman Sosialis Nasional.

Semua anggota Nazi, dari Hitler, sampai ke pemimpin terkecil di blok-blok kota, bekerja tanpa mengenal lelah untuk memasukkan pesan mereka ke dalam pikiran orang Jerman.

Pada hari pemilihan umum tanggal 14 September 1930, Nazi mendapatkan 6,371,000 suara, delapan belas persen lebih dari total pemilih, dan berhak mendapatkan107 kursi di dewan (Reichstag). Itu adalah kemenangan yang mempesona Hitler. Dalam semalam, Partai Nazi berubah dari partai terkecil menjadi partai terbesar kedua di Jerman.

Hal itu mendorong Hitler ke prestise nasional dan internasional dan membangkitkan keingintahuan pers dunia. Dia dihujani permintaan wawancara. Jurnalis asing ingin mengetahui – apa yang dimaksudkannya dengan – merobek-robek perjanjian Versailles dan mengakhiri pembayaran pampasan perang? – dan Jerman tidak bertanggung jawab terhadap perang dunia satu?

Pergi sudah gambaran Charlie Chaplin pada Hitler sebagai seorang fanatik yang menggelikan di belakang Kudeta Beer Hall. Revolusi beer hall telah digantikan oleh manipulator massa yang ahli.

Pada tanggal 13 Oktober 1930, berpakaian coklat-coklat, anggota Nazi terpilih berbaris dengan serentak memasuki Reichstag dan mengambil kursi mereka. Ketika nama mereka dipanggil, masing-masing berteriak, "Hadir! Heil Hitler!"

Mereka tidak punya maksud bekerjasama dengan pemerintahan demokratik, karena mengetahui bahwa merupakan keuntungan bagi mereka untuk membiarkan segala sesuatunya menjadi lebih buruk di Jerman, sehingga meningkatkan daya tarik Hitler bagi orang-orang yang kesusahan.

Pasukan Nazi dengan berpakaian sipil merayakan kemenangan pemilu dengan memecahkan toko-toko jendela, restoran dan department store milik Yahudi, suatu tanda hal semacam itu akan terjadi di masa datang.

Sekarang, bagi demokrasi Jerman yang sedang menggelepar, jarum jam berdetik dan kali ini ada di sisi Hitler.

Tidak ada komentar: