Jumat, 29 Februari 2008

HITLER MENJADI KANSELIR

Ketika Adolf Hitler berjalan ke kantor kepresidenan Paul von Hindenburg untuk menjadi kanselir, orang tua itu sangat terganggu saat melihat dia.

Dia tetap menunggu saat Hitler dan pemimpin konservatif Alfred Hugenberg berdebat tentang keinginan Hitler mengadakan pemilihan baru. Itu adalah debat terakhir dari suatu jaringan besar pertarungan politik dan pengkhianatan yang akhirnya menghasilkan Adolf Hitler menjadi kanselir Jerman.

Jerman adalah sebuah negara yang dalam sejarahnya hanya mempunyai sedikit pengalaman atau perhatian pada demokrasi. Pada bulan Januari 1933, Adolf Hitler mengambil alih negara republik demokratik Jerman berusia 14 tahun yang dalam banyak pikiran orang hidupnya lebih lama dari kegunaannya. Pada saat ini, tekanan ekonomi dari Depresi Besar digabungkan dengan sikap mementingkan kepentingan sendiri dan keragu-raguan dari politikus hasil pemilihan umum membuat pemerintahan di Jerman seperti jalan di tempat. Orang-orang tanpa pekerjaan, tanpa makanan, ketakutan dan putus asa mengharapkan pembebasan dari semua itu.

Sekarang, orang yang menghabiskan seluruh karir politiknya selalu mencela dan berusaha untuk menghancurkan republik, menjadi pemimpin. Tengah hari pada tanggal 30 Januari, Hitler diambil sumpahnya.

"Aku akan menggunakan kekuatanku untuk kesejahteraan rakyat Jerman, melindungi hukum dan undang-undang rakyat Jerman, bersungguh-sungguh melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadaku, dan memimpin pekerjaanku dikantor secara seimbang dan keadilan bagi semua orang." sumpah yang diambil oleh Adolf Hitler.

Tetapi waktu itu, sumpah itu telah beberapa kali dilanggar oleh kanselir sebelumnya yang berhenti karena putus asa dan karena ambisi pribadi. Kanselir Schleicher dan Papen dengan serius menyarankan pada Hindenburg gagasan untuk mengganti republik dengan pemerintahan diktaktor militer untuk memecahkan krisis kebuntuan politik. Hitler membuat keduanya jatuh.

Ketika Adolf Hitler dengan mata berkaca-kaca keluar dari tempat kepresidenan sebagai kanselir baru, dia disambut oleh Nazi dan para pendukungnya yang percaya padanya, bukan pada undang-undang republik.

"Kita berhasil!" Hitler berteriak dengan gembira pada mereka.

Dia memimpin atas kabinet yang terdiri atas, termasuk dirinya, hanya 3 Nazi dari 11 pos. Hermann Göring adalah menteri tanpa Portofolio dan menteri dalam negeri Prussia. Anggota Nazi, Wilhelm Frick, sebagai menteri dalam negeri. Kecilnya anggota Nazi dalam kabinet direncanakan untuk membantu agar Hitler tetap dapat dikendalikan.

Franz von Papen sebagai wakil kanselir. Hindenburg telah berjanji padanya bahwa Hitler hanya dapat diterima di kantor kepresidenan jika ditemani oleh Papen.

Itu adalah cara lain untuk mengendalikan Hitler. Kenyataannya, Papen bermaksud menggunakan mayoritas konservatif dalam kabinet bersama dengan kemampuan politiknya untuk menjalankan pemerintahan sendiri.

"Dalam dua bulan kita akan mendorong Hitler ke pojok sehingga dia akan mencicit," bual Papen pada rekan-rekan politikusnya.

Papen dan banyak orang bukan Nazi berpikir bahwa menjadikan Hitler sebagai kanselir adalah keuntungan buat mereka. Anggota konservatif dari pemimpin kelas aristokrat terdahulu menginginkan akhir dari republik dan kembali ke pemerintahan otoriter yang akan mengembalikan Jerman pada kejayaan dan mengembalikan semua hak khusus mereka. Mereka ingin kembali ke hari-hari kekaisaran. Bagi mereka, menempatkan Hitler di kekuasaan adalah langkah awal untuk mendapatkan tujuan mereka. Mereka tahu bahwa Hitler tampaknya akan merusak republik. Ketika republik dihapuskan, mereka akan menempatkan seseorang pilihan mereka sendiri menjadi pemimpin, mungkin keturunan dari kaisar.

Para banker besar dan industrialis termasuk Krupp dan I. G. Farben, telah melakukan pendekatan pada Hindenburg dan merancang rencana di belakang layar atas nama Hitler sebab mereka yakin bahwa Hitler baik untuk kegiatan bisnis. Hitler berjanji akan membuka perdagangan bebas serta menjatuhkan komunisme dan pergerakan serikat buruh.

Angkatan bersenjata juga menaruh harapan pada Hitler, mempercayai janji yang telah diulang-ulang untuk merobek-robek perjanjian Versaille dan mengembangkan angkatan bersenjata untuk mengembalikan kejayaan mereka.

Mereka mempunyai satu kesamaan – meremehkan Hitler.

Pada malam hari tanggal 30 Januari, setiap anggota SA dan SS keluar dengan berseragam untuk merayakan Führer-kanselir yang baru, Adolf Hitler. Dengan membawa obor dan menyanyikan lagu Hörst Wessel, mereka disambut ribuan orang saat mereka berbaris melintasi gerbang Brandenburg dan sepanjang jalan Wilhelmstrasse ke istana kepresidenan. Polisi-polisi yang dulu memberi masalah pada mereka sekarang mengenakan ban lengan swastika dan tersenyum pada mereka. Dimana-mana terdengar hentakan sepatu pasukan, drum dan suara parade musik militer.

Mereka memberi salam pada Hindenburg saat orang tua itu melihat dari sebuah jendela di istana kepresidenan. Kemudian mereka menunggu Hitler di tempat kediaman kanselir dalam suatu adegan yang dirancang secara hati-hati oleh Joseph Goebbels. Lautan tangan yang memegang obor menyala membuat cahaya berpendar pada baner-baner Nazi yang berwarna merah dan emas diantara dentuman drum yang lambat menunggu kemunculan Führer. Laki-laki, wanita, anak-anak bersama-sama dengan SA dan SS menunggu. Hitler membiarkan mereka menunggu, membiarkan sampai ketegangan memuncak. Di seluruh Jerman, rakyat mendengarkan di radio, menunggu, dan mendengar massa berteriak untuk Führer mereka.

Ketika dia muncul dalam sorotan lampu, Hitler disambut dengan suatu pencurahan pemujaan berlebihan yang tidak pernah dilihat di Jerman sebelumnya. Bismark, Frederick yang Agung, Kaisar, tidak melihat hal ini.

"Heil! Sieg Heil!," (Hail! Hail Kemenangan!) terdengar paduan suara dari orang-orang yang percaya waktu pembebasan telah tiba dalam wujud orang ini yang sekarang menatap ke bawah pada mereka.

"Ini hampir seperti mimpi – sebuah dongeng. Reich (negara) baru telah lahir. Empat belas tahun kerja telah dianugerahi kemenangan. Revolusi Jerman telah dimulai!" - Joseph Goebbels menulis dalam buku hariannya, 30 Januari 1933.

Seorang teman lama Hitler mengirim telegram pada Presiden Hindenburg mengenai kanselir barunya. Jenderal Erich Ludendorff yang dulu pernah mendukung Hitler dan bahkan berpartisipasi dalam Kudeta Beer Hall yang gagal di tahun 1923.

"Dengan menetapkan Hitler sebagai kanselir negeri ini anda telah menyerahkan tanah suci Jerman kepada pemimpin terbesar sepanjang masa. Saya meramalkan bahwa orang jahat ini akan membawa negara kita ke dalam jurang dan menimbulkan kemalangan tak terkira pada bangsa kita. Generasi mendatang akan mengutuk anda dalam liang kubur anda atas tindakan ini." – kata Ludendorff dalam telegramnya ke Hindenburg.

Dalam beberapa minggu, Hitler akan menjadi diktaktor mutlak Jerman dan menggerakkan rangkaian peristiwa yang akan menghasilkan perang dunia kedua dan kematian hampir 50 juta orang dalam perang dan dalam pembantaian.

Untuk memulai, Hitler akan melihat republik demokratik Jerman jatuh dalam api, secara harafiah. Pada bulan Februari 1933, Nazi menyusun suatu rencana untuk membakar gedung Reichstag dan mengakhiri demokrasi selamanya.

Tidak ada komentar: